Tampilkan postingan dengan label Probolinggo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Probolinggo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2015

Bromo : Gunung di Atas Gunung





















Dari pelosok negeri sampai ke mancanegara siapa yang tak mengenal Bromo? Gunung di atas gunung ini memang unik, dengan pasir laut seluas 5.250 hektar dan terletak di ketinggian 2392 meter di atas permukaan laut. Bromo berada dalam empat wilayah, yaitu kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Bentuk tubuh gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir.Gunung ini tidak sebesar gunung api lainnya di Indonesia tetapi memiliki pemandangannya yang spektakuler dan dramatis. Keindahannya yang luar biasa membuat wisatawan yang mengunjunginya akan berdecak kagum.

Gunung Bromo berasal dari kata Brahma (salah seorang Dewa agama Hindu). Bromo merupakan gunung api yang masih aktif dan terkenal sebagai ikon wisata Jawa Timur. Jadi jangan kaget kalau di sekitar gunung Bromo masyarakatnya memeluk agama hindu. 

Hasil gambar untuk gunung bromo sunrise
Salah satu daya tarik gunung Bromo adalah matahari terbit (sunrise). Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m anda bisa melihat keindahannya sambil menikmati kehangatan sinar matahari. Di saat sunrise ini anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang perlahan-lahan naik ke langit. 

Selain menikmati sunrise, banyak sekali yang bisa anda lakukan di sini. Anda bisa berkuda di atas hamparan padang pasir yang luas. Ongkos sewanya tergantung jarak yang akan di tempuh, namun masih bisa di turunkan apabila anda pandai menawar. Anda juga bisa mengendarai jeep sewaan yang muat berisi hingga 6 orang. Nah, saat anda menikmati hamparan pasir janganlah heran bila sepanjang perjalanan anda akan menemui turis asing sedang berjalan-jalan. Cobalah menyapa dan tawarkan foto bersama dengan mereka.

Hasil gambar untuk berapa tangga kawah bromo?Hasil gambar untuk berapa tangga kawah bromo?
Nah, yang menjadi syarat sempurnanya menikmati keindahan Bromo adalah naik ke puncak kawah. Berjalan bersama keluarga atau teman-teman akan menambah kenikmatannya. Pada saat ini anda akan di tantang untuk menaiki 250 anak tangga. Bukan angka yang sedikit bukan? Menurut saya yang sering naik ke atas kawah ini adalah melelahkan. Tapi bagi anda yang pertama kali naik, setelah berada di atas puncak sensasi bahagianya akan terasa sekali. Sedikit saran untuk anda, bila anda yang berkeinginan untuk naik kepuncak jangan lupa untuk memakai masker atau kain sejenis untuk menutup hidung karena selain debu yang tertiup angin, bau belerang akan terasa sangat menyengat. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat).

Ada satu lagi momen yang jarang anda dapatkan disana. Apabila anda berencana pergi ke Bromo dalam waktu Juli-agustus mungkin aanda bisa menemuinya. Yaitu Yadnya Kasada atau Kasodo, upacara melempar sayuran dan hewan ternak di atas kawah. Pada saat itu ribuan orang akan berkumpul di atas hamparan pasir sampai ke atas kawah untuk melakukan upacara sesembahan ini. Tidak hanya penduduk pribumi yang akan anda temui di sana, tapi juga turis lokal maupun mancanegara.

Untuk anda para backpacker yang ingin menghabiskan beberapa hari di Bromo tak usah khawatir. Anda bisa menyewa penginapan ataupun villa dengan harga yang terjangkau mulai dari Rp.100.000 permalam.

Madakaripura : Air Terjun Tempat Terakhir Gajah Mada

Siapa yang kenal dengan sosok pahlawan besar yang mampu menyatukan Nusantara di bawah satu bendera Majapahit yakni Patih Gajah Mada? Di air terjun ini, konon menurut penduduk setempat adalah tempat peristirahatan terakhir Patih Gajah Mada. Mau tahu ceritanya? Yuk kita simak bersama.
tiket masuk air terjun madakaripura
Nama Madakripura, terkait sangat erat dengan sejarah panjang Kerajaan Majapahit di masa kejayaannya, Hayam Wuruk dan Gajah Mada berhasil menyatukan bumi Nusantara yang membentang dari Wanin hingga Madagaskar. Gajah Mada yang lihai dalam strategi, diplomasi, dan perang, berhasil meruntuhkan kepercayaan raja-raja Nusantara di masa itu, sehingga mereka mau berucap janji setia dalam naungan Surya Majapahit. Seperti apa sepak terjang Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara memang masih menjadi sebuah misteri karena bigitu sedikitnya literatur dan sumber yang membahas mengenai hal tersebut.

Madakaripura sendiri berarti “tempat tinggal terakhir” Pengunaan nama ini diambil dari kepercayaan masyarakat sekitar yang mengatakan, disinilah Gajah Mada melewati masa akhir hidupnya. Beberapa sumber dan literatur mengatakan bahwa setelah peristiwa Perang Bubat dimana seluruh rombongan dari kerajaan Sunda Galuh terbantai Gajah Mada di copot dari jabatanya sebagai mahapatih di Majapahit. Tragedi Perang Bubat telah melukai begitu banyak pihak dan berdampak sangat luas. Prabu Hayam Wuruk terluka karena cintanya yang sedang mekar tiba-tiba dihadapkan pada maut. Keluarga Raja Majapahit terluka karena akar sejarahnya yang begitu dekat dengan Sunda Galuh mendadak dipangkas dengan paksa. Sunda Galuh adalah pihak yang paling terluka, bukan saja karena harga diri yang dilecehkan tanpa ampun, melainkan juga karena semangat perdamaian, harapan, dan kepercayaan mereka terhadap Majapahit dinodai hingga titik paling hitam.


Hasil gambar untuk patung gajah mada madakaripura
Bagaimana dengan Gajah Mada? Gajah Mada ditempatkan sebagai pihak paling bersalah atas tragedi itu. Ia dihujat, dicaci, dan dicela. Namun, sesungguhnya sang legendaris ini juga merasa terluka. Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak ada harganya sama sekali. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir.

Gajah Mada pun harus menerima hukumannya. la diasingkan dan harus melewati hari tua di Madakaripura, sebuah tempat terpencil dan jauh dari segala ingar-bingar urusan duniawi. Ia menenggelamkan diri dalam kesunyian dan terus berdoa pada Sang Pencipa, sampai akhirnya, ia meninggal dunia dalam kesunyian yang tiada tara. Disaksikan butiran-butiran abadi air terjun yang memantulkan cahaya matahari dan menciptakan pelangi, tangga warna dari Nirwana. Air yang turun deras dan memantulkan bianglala ini kemudian dikenal sebagai air suci ‘Tirta Sewana’. Air ini, dipercaya memiliki kelebihan luar biasa sehingga bisa menyembuhan orang sakit dan bisa membuat kita awet muda.

Di luar mitos ini, Madakaripura dikenal sebagai tempat wisata alam terbuka yang menonjolkan daya tarik air terjun dengan ketinggian sekitar 200 meter. Air terjun ini berkumpul di relung sempit dengan diameter 25 meter. Kawasan wisata ini berada sekitar 620 meter diatas permukaan air laut, dan terletak di kawasan Tengger, tak jauh dari Bromo. Tak heran jika beberapa travel agent yang menyiapkan Bromo sebagai daerah tujuan, biasanya juga menyisipkan Madakaripura sebagai tempat tujuan wisata. Dengan Rp.5000 anda sudah bisa menikmati keindahan alam dari Madakaripura ini.


Hasil gambar untuk madakaripura air terjun
Air terjun Madakaripura sendiri berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di desa Sapih, kecamatan Lumbang kabupaten Probolinggo. Kendaraan pribadi jadi pilihan paling tepat untuk mencapai lokasi air terjun karena letaknya yang jauh dari jalan utama. Perjalanan dari jalan raya menuju air terjun cukup melelahkan karena kondisi jalan yang cukup buruk. Kita akan sampai di pos pemeriksaan setelah mengarungi jalanan berbatu dengan jurang di sisi kanan dan tebing tinggi di sisi kiri selama hampir 15 hingga 20 menit. 
Perjalanan anda untuk sampai di air terjun belum berhenti sampai disini. Anda harus melanjutkan lagi berjalan kaki kurang lebih 30 menit.

Meskipun melelahkan untuk sampai di bawah air terjun, ketika pertama kali datang anda akan dibuat kagum melihat air terjun mengalir di antara dua dinding tebing di kanan dan kiri anda. Sensasi 'mandi hujan' akan anda rasakan di sini. Kulit anda akan merasakan dinginnya hempasan air terjun, sekaligus sedikit perih karena tetesan-tetesan air dari ketinggian. Selain itu, anda akan merasakan suasana temaram dan sedikit berkesan mistis. Tebing-tebing di sekitar anda berusaha mencegah sinar matahari menembus ke bawah.

Nah, untuk mendapatkan semua keindahan ini anda tak perlu membayar mahal, tiket masuk hanya Rp. 5000 tiap orang.

Sedikit saran buat anda, jika anda ingin berwisata ke air terjun Madakaripura sebaiknya jangan di waktu musim hujan. Pada saat itu longsor kerap terjadi, dan anda bakal menyesal karena petugas akan melarang anda untuk mendekati air terjun.


































Aksesbilitas

Berjarak sekitar 5 km dari lintas jalan raya menuju Bromo atau sekitar 45 menit waktu tempuh dari lokasi wisata Gunung Bromo ke arah Probolinggo (ke Utara). Jika dari pusat kota kabupaten Probolinggo sekitar 30 km. Lokasi air terjun ini bisa dicapai dengan kendaraan pribadi atau mobil sewaan dengan kondisi jalan berkelok kelok dan sudah beraspal mulus akan tetapi sedikit sempit.

Jika perjalanan datang dari arah Probolinggo maka sesampai di Desa Sukapura akan ditemui pertigaan yang ditandai dengan plang besar. Jika ke ke kiri ke arah Gunuing Bromo dan yang ke kanan ke arah lokasi Air Terjun Madakaripura. Jarak dari pertigaan ini masih sekitar 4 km hingga tiba di pintu masuk lokasi air terjun.Sebelumnya masih ditemui pertigaan lagi sebelum tiba di pintu masuk dan ambil belokan ke kanan.

Sesampainya di pintu gerbang dan masuk ke area parkir perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km melewati jalan setapak yang sebagian sudah cor sebagian tidak karena hilang terbawa longsor, dan menyeberangi sungai. Untuk menuju kesana sebaiknya menggunakan jasa pemandu, hal ini dikarenakan jalan menuju kesana cukup berat medannya. Di tambah lagi di lokasi ini sering terjadi banjir dan longsor. Para pemandu ini, umumnya penduduk lokal, banyak ditemui di area sekitar parkiran dan mereka biasanya langsung menawarkan diri, Ongkos pemandu sekitar Rp 50000 sekali jalan.




Tiket masuk Rp 3000 per orang.